GERBONG 6 DAN RATAPAN SI BANTET ;
aku berusaha menggapai pandanganku kearah jendela, dengan begitu susah
payah aku mencari celah, semakin penasaran dan semakin menyebalkan namun
akhirnya TIDAK berhasil juga (terjebak diantara orang - orang yang
tingginya mungkin sekitar 178/180cm, dan dengan gagahnya dan mudahnya
memegang batang besi gerbong yang terletak cukup tinggi, sombong
| Cari dengan google |
Wednesday, September 12, 2012
Monday, May 21, 2012
KHARISMA
“Papaah… liat deh fesbuk
temen akhuu.. nih.. namanya Andy Krisbianto”, ujar dwi dengan manja
bergelendotan ke pundak suaminya sembari menunjukkan foto kawan SMA nya
itu yang menurutnya sangat berkharisma.
“Gimana menurut papaah…?” Tanya dwi dengan manja dan sedikit agak nyengir, iseng – iseng dia ingin sedikit membuka ruang diskusi ringan dengan suaminya, saat mereka sedang ngelonjor santai di teras depan rumah di pagi hari yang berangin itu, beberapa jam sebelum mereka berangkat ke rumahnya pipin.
“Gimana menurut papaah…?” Tanya dwi dengan manja dan sedikit agak nyengir, iseng – iseng dia ingin sedikit membuka ruang diskusi ringan dengan suaminya, saat mereka sedang ngelonjor santai di teras depan rumah di pagi hari yang berangin itu, beberapa jam sebelum mereka berangkat ke rumahnya pipin.
Tuesday, May 8, 2012
ANGIN NERAKA
Angin dari neraka yang terdesak dan terperangkap dibalik selimut tebal
sangat mengganggu konsentrasi tidurku malam ini. Walau tak tampak, tapi
aku bisa merasakan kalau dia ingin terbebas, namun aku merasa begitu
malas untuk menghiraukannya hingga benih - benih kekesalannya mulai
merajalela merongrong diriku sedikit demi sedikit. Aku benar - benar tak
menyadarinya.
Sejujurnya pada awalnya aku tak bergeming, samasekali tidak merasa terganggu.
"Samasekali ngga penting !", pikirku berujar, dan mata ini tetap dalam keadaan terpejam, walau pikiranku belum terlelap sepenuh hati.
Sejujurnya pada awalnya aku tak bergeming, samasekali tidak merasa terganggu.
"Samasekali ngga penting !", pikirku berujar, dan mata ini tetap dalam keadaan terpejam, walau pikiranku belum terlelap sepenuh hati.
TADI PAGI... 7-May-2012
“Ow owww… mendung
sekaliii…”, dengan lirih dan manja disertai suara seksi pagi hari (bau
pastinya hehehe), ucap saya sesaat setelah membuka kaca nako kamar.
“Hmmmm…… praannnggg, tuiiiing tuiiing !!!”, saya melemparkan tubuh
mungil ini kembali kekasur dan menarik selimut bulu motif macan tutul yang
lembut menutupi punggung.
Masih jam 6 pagi pikir saya, setidaknya masih ada 1 jam untuk sejenak memberikan bonus rebahan sebelum mandi pagi. Padahal saya tidak tertidur, hanya kemalasan yang menggila hasil bujukan suasana mendung yang
Masih jam 6 pagi pikir saya, setidaknya masih ada 1 jam untuk sejenak memberikan bonus rebahan sebelum mandi pagi. Padahal saya tidak tertidur, hanya kemalasan yang menggila hasil bujukan suasana mendung yang
Thursday, October 20, 2011
OJEK MAUT
Insiden mengerikan kali ini dimulai setelah aku turun di stasiun Tebet. Segera setelah turun dari kereta komuter yang lumayan agak kosong, aku menuju pangkalan ojek yang bertengger dipinggir pintu masuk utama stasiun. Kira – kira 5 meter sebelumnya aku sudah memperhatikan mereka, dari segelintir para tukang ojek yang melambai-lambaikan tangan, aku tetap hanya tertuju ke satu orang yang sudah kuanggap langganan dan mengerti jalan terbaik dan tercepat menuju kantorku. Kalau tidak si abang A, aku beralih ke abang B, mereka kebetulan kakak beradik dengan profesi yang sejenis.
Tuesday, March 22, 2011
NAKAL, LUNAK, BAHENOL
Menggelinjang - gelinjang nakal dimainkan liarnya lidah.
Dia seperti hidup dan berontak dengan gerakan - gerakan panas; meliuk, meringkuk, berpindah - pindah posisi dengan ganasnya.
Bongkahan - bongkahan lunak yang bahenol dan amat sekal yang bercampur lendir itu semakin merajalela.
Aku terbuai teramat dalam, mata ini mendelik dibuatnya, dan kemudian turun perlahan... Dan mendelik lagi dalam sekejap, berpeluh dan tersudut, oleh mereka yang bergerilya dengan tajam dan sadis.
Makna itu hingga tak terucap, nikmat yang hingga tak terkatakan. Rasa yang sudah melayang hingga entah kemana. Tersesat oleh nafsu sesaat dan seperti tak ingin kembali. Realita tersingkir, kesadaran terinjak - injak.
Sore itu, kembali rasa puas seperti noda yang melecehkanku berulang-ulang. Aku sudah kotor namun penyesalan selalu begitu samar.
Hingga sesaat kemudian....
Aku tersadar....
Pengeras suara menggema... Dan aku harus bersiap - siap...
Keretaku hampir tiba...
Oooh somay stasiun Sudirman...
Sore ini "goyangan pinggulmu" kembali sukses menodai mulutku.
Dan seruan menggema pengeras suara kembali menyelamatkanku...
Tapi semua sudah terlambat...
Aku sudah terlanjur ternoda...
Dan rasanya...
Esok atau lusa cerita ini akan tetap sama...
Food Hall St. Sudirman, 22-Mar-2011; 19:45
Andy Krisbianto
Dia seperti hidup dan berontak dengan gerakan - gerakan panas; meliuk, meringkuk, berpindah - pindah posisi dengan ganasnya.
Bongkahan - bongkahan lunak yang bahenol dan amat sekal yang bercampur lendir itu semakin merajalela.
Aku terbuai teramat dalam, mata ini mendelik dibuatnya, dan kemudian turun perlahan... Dan mendelik lagi dalam sekejap, berpeluh dan tersudut, oleh mereka yang bergerilya dengan tajam dan sadis.
Makna itu hingga tak terucap, nikmat yang hingga tak terkatakan. Rasa yang sudah melayang hingga entah kemana. Tersesat oleh nafsu sesaat dan seperti tak ingin kembali. Realita tersingkir, kesadaran terinjak - injak.
Sore itu, kembali rasa puas seperti noda yang melecehkanku berulang-ulang. Aku sudah kotor namun penyesalan selalu begitu samar.
Hingga sesaat kemudian....
Aku tersadar....
Pengeras suara menggema... Dan aku harus bersiap - siap...
Keretaku hampir tiba...
Oooh somay stasiun Sudirman...
Sore ini "goyangan pinggulmu" kembali sukses menodai mulutku.
Dan seruan menggema pengeras suara kembali menyelamatkanku...
Tapi semua sudah terlambat...
Aku sudah terlanjur ternoda...
Dan rasanya...
Esok atau lusa cerita ini akan tetap sama...
Food Hall St. Sudirman, 22-Mar-2011; 19:45
Andy Krisbianto
KUPU – KUPU STASIUN CAWANG
Stasiun Cawang, 9:25pm
Aku berdiri di barisan paling kiri, di platform penumpang yang mengarah ke Bogor, menunggu keretaku tiba, hanya berjarak beberapa langkah dari 2 petugas pemeriksa tiket dipinggir gerbang menuju platform. Sengaja aku berdiri disitu sehingga aku bisa memperoleh gerbong nomor 2 atau 3 dari barisan depan rangkaian kereta, dengan demikian aku pun bisa turun di stasiun tujuan dengan lebih cepat menuju pintu keluar. Berharap malam itu penumpang sudah tidak terlalu padat, sehingga aku tidak perlu berjejalan masuk memasuki gerbong barisan depan, barisan gerbong yang menjadi andalan bagi sebagian besar penumpang.
Subscribe to:
Posts (Atom)